Senin, 20 Januari 2014

HEI BUAT KAMUKAMU YANG MASIH PEMULA BUAT MEMILIH PEMIMPIN BANGSA, WAJIB SIMAK!! :))

Woyyyyy anak bangsa!!! Sudah menginjak 2014 lhooo.... | Emang ada apa sama 2014? | Kita kan mau memilih pemimpin bangsa | Oya? Tapi aku belum tau gambaran sosok pemimpin nih... Gimana ya? | Yuuuk simak di bawah ini, boleh lho yuaaa :3 | Cusssssbrooo.....

Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara. Oleh karena itulah Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang baik dan beriman: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. “ (An Nisaa 4:138-139) “
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim ” (QS. Al-Maidah: 51) “
Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zalim” (At Taubah:23) “ Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali (teman atau pelindung)” (An Nisaa:144) “ Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun…” (Ali Imran:28) Selain beriman, seorang pemimpin juga harus adil: Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ada tujuh golongan manusia yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu ialah):
  1. Imam/pemimpin yang adil
  2. Pemuda yang terus-menerus hidup dalam beribadah kepada Allah
  3. Seorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid
  4. Dua orang yang bercinta-cintaan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah
  5. Seorang pria yang diajak (berbuat serong) oleh seorang wanita kaya dan cantik, lalu ia menjawab “sesungguhnya aku takut kepada Allah”
  6. Seorang yang bersedekah dengan satu sedekah dengan amat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
  7. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullâh) di waktu sendirian, hingga melelehkan air matanya. (HR. Bukhari dan Muslim) “
Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8) Keadilan yang diserukan al-Qur’an pada dasarnya mencakup keadilan di bidang ekonomi, sosial, dan terlebih lagi, dalam bidang hukum. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan supremasi hukum; memandang dan memperlakukan semua manusia sama di depan hukum, tanpa pandang bulu. Hal inilah yang telah diperintahkan al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah ketika bertekad untuk menegakkan hukum (dalam konteks pencurian), walaupun pelakunya adalah putri beliau sendiri, Fatimah, misalnya. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135) Dalam sebuah kesempatan, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu. Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah) “Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib) Pilihlah pemimpin yang jujur: Dari Ma’qil ra. Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda: “seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Bukhari) Pilih pemimpin yang mau mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme, manipulasi, dll: “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim) Pilih pemimpin yang bisa mempersatukan ummat, bukan yang fanatik terhadap kelompoknya sendiri: Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan dalam Al Qur’an : “ … Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian, orang-orang Muslim, dari dahulu … .” (QS. Al Hajj : 78) Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menukil satu hadits yang berbunyi : “Barangsiapa menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah maka sesungguhnya dia menyeru ke pintu jahanam.” Berkata seseorang : “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa dan shalat?” “Ya, walaupun dia puasa dan shalat, walaupun dia mengaku Muslim. Maka menyerulah kalian dengan seruan yang Allah telah memberikan nama atas kalian, yaitu : Al Muslimin, Al Mukminin, Hamba-Hamba Allah.” (HR. Ahmad jilid 4/130, 202 dan jilid 5/344). Ada beberapa sifat baik yang harus dimiliki oleh para Nabi, yaitu:
  1. Siddiq (benar),
  2. Amanah (dapat dipercaya),
  3. tabligh (berkomunikasi baik dengan rakyatnya),
  4. Fathonah (cerdas/bijaksana).
Sifat di atas juga harus dimiliki oleh pemimpin yang kita pilih. Pilih pemimpin yang amanah, sehingga dia benar-benar berusaha mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa menjual aset negara atau kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Pilih pemimpin yang cerdas, sehingga dia tidak bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan rakyatnya. Terkadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih Golput. Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Dalam Islam, kepemimpinan itu penting, sehingga Nabi pernah berkata, jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin. Jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin. Sholat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam).

Dalam penjelasan di atas, mengapa menurut islam? Tidak lainnya saja? Karena aturan-aturan dalam islam itu menjamin kebenarannya dan membawa manfaat bagi seluruh ummat. Ingat, seluruh ummat. Bukan hanya ummat islam saja dear :) semoga postingan ini bermanfaat yaaa :)


Untuk menghindari sebutan plagiat, saya cantumkan sumbernya http://www.univrab.ac.id/berita-187-bagaimanakah-cara-memilih-pemimpin-menurut-islam.html

Sabtu, 18 Januari 2014

Bukan Nilai, Tetapi Ilmu yang Menjadi Akar Kebahagiaan Kita Kelak. Sukses dan Beramal Jariyah

*setelah berbulan-bulan tidak mosting, aku kangen yg namanya buat artikel di blog T.T alhamdulillah masih diberi umur untuk berkarya. Mari, semangat memulai karya mulai saat ini!!! AllahuAkbar!!!*


You know? Keinginan awal, saya ingin melanjutkan kuliah di fakultas geografi, jurusan kartografi dan penginderaan jauh. Saya tidak menyangka bahwa ditakdirkan kuliah masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kenapa? Karena mental, sifat, kebijaksanaan, kearifan, kewibawaan apalagi soal kedewasaan dan sebagainya masih jauuuuuh sekali dari karakter seorang "guru". Tapi semua patut disyukuri karena masih banyak yg kurang beruntung dari saya. Allah, Dialah yang telah mengukir takdir saya^^

Kuliah perdana disajikan dengan matkul Pengantar Ilmu Pendidikan. Aura semangat mulai membara, karena sudah tidak berjumpa dengan pelajaran2 yg menurutku membosankan, yaah tak usah disebutkan :p. Mengapa semangat? Karena aku telah menapaki jejak baru, menyongsong masa depan dengan beban akademis yg lebih menantang, dan memikul hal lain yg sekiranya didapat setelah menapaki tahap perguruan tinggi. Mulai dari cara belajar, mencari bahan materi ujian, bagaimana memburu ilmu dengan proses sedemikian rupa, metode belajar yg berbeda, menerima dan menyampaikan ilmu yang dipunya, mencerna apa yang diterangkan oleh dosen, menyesuaikan jadwal yang jlong-jlong  dan masih banyak lagi.

Semester 1 hampir berlalu. Aku menuliskan artikel ini saat-saat awal liburan semester. Hal yang paling terngiang-ngiang di benak saya adalah hasil UAS dan portal yang menjadi pijakan hasil studi.

Ceritanya begini:
Saya telah menerima hasil UTS beberapa waktu lalu. Hanya beberapa mata kuliah saja yang dibagikan. Ada penyesalan? Pasti. Nilai UTS yg kurang dan jauh dari jangkauan memuaskan membuatku down dan semakin tidak PD. Rasanya, sudah kurang layak lagi untuk terus berkembang, apalagi di bidang prestasi akademik. Dampak2 buruk yang saya alami ternyata mencetak hal buruk baru. Menjelang UAS, saya masih terngiang-ngiang tentang nilai UTS lalu. Merasa pesimis mendapatkan nilai bagus. Saat itu, seolah-olah saya diracuni oleh setan bagaimana ceteknya mindset saya. Akibatnya semangat saya labil saat awal hingga akhir perjalanan UAS.
Seusai ujian matkul PKn, teman sekelas saya heboh membicarakan nilai. Saya mulai penasaran. Ternyata matkul piiip sudah dinilai dan dibagikan. Bagaimana reaksi saat itu? Saya hanya diam membisu setelah melihat hasil UAS. Saya mencoba tegar dan menenangkan diri, meskipun teman2 saya saling tanya tentang nilai yang mereka peroleh.
Hari penuh kekecawaan itu berlalu. Namun, ternyata masih ada seonggok tamparan yang saya terima lagi untuk ke sekian kalinya. Saat saya hendak membuka facebook, teman saya memberi kabar bahwasannya nilai matkul piip sudah bisa dilihat di portal. Kecewa lagi. Mencoba tenang dan saat itu belum memberanikan diri memberi tahu kepada orangtua. Esoknya, aku beritahu kepada mereka tentang kabar memalukan itu.
 Kemudian, beberapa hari setelah melihat portal, saya dan teman mulai membuka diri tentang nilai yang didapatkan antara kami. Saling tanya tentang batasan2 nilai mengikuti ujian ulang bagaimana, antara mengikuti ujian ulang atau mengulang satu semester lagi agar dapat ilmunya dsb. Akhirnya perbincangan kami berujung pada perenungan.
"Buat apa nilai bagus? Toh kita kan calon guru, yang terpenting kita harus bisa mentransfer ilmu kepada siswa kita nanti kan?", nasehat Apid, yang orangnya ke-kakak-kakak-an :3.
Sejak saat inilah mindset saya berkembang dan mulai menerima kebenaran serta hakekat ilmu sebenarnya.    Padahal, nilai bukanlah segalanya untuk mencari kesuksesan. Namun, bagaimana proses dan ilmu-ilmu yang didapatkan akan membawa manfaat atau tidak saat terjun di masyarakat. Tidak peduli akan gelar sarjana yang diraih. Masyarakat tidak butuh gelar yang kita raih. Tapi mereka butuh akan ilmu-ilmu yang selama ini kita dapatkan. Saat kita pergi meninggalkan kampung halaman demi menuntut ilmu. Maka, kembalilah ke kampung halaman dengan segudang ilmu yang kita punya. Ilmu adalah oleh-oleh berharga untuk adik, saudara, tetangga, siswa kita nanti. Bagaimana kita telah mengemas ilmu sedemikian rupa hingga pada akhirnya, ilmu seharusnya disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat, khususnya pelajar. Dan oleh-oleh itu telah membawa jutaan manfaat dan mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan. Bayangkan jika itu diri kita. Kemudian masyarakat kampungmu selalu pasang senyuman di raut wajah mereka, karena pemberian ilmu kita yang membawa kebahagiaan mereka.
Siapa yang tidak bahagia akan hal ini?