Woyyyyy anak bangsa!!! Sudah menginjak 2014 lhooo.... | Emang ada apa sama 2014? | Kita kan mau memilih pemimpin bangsa | Oya? Tapi aku belum tau gambaran sosok pemimpin nih... Gimana ya? | Yuuuk simak di bawah ini, boleh lho yuaaa :3 | Cusssssbrooo.....
Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas
dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya
tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan
sengsara. Oleh karena itulah Islam memberikan pedoman dalam memilih
pemimpin yang baik.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih
pemimpin yang baik dan beriman: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik
bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang
mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan
meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi
orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. “ (An
Nisaa 4:138-139) “
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka
adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
oarng-orang yang zalim ” (QS. Al-Maidah: 51) “
Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan
saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih
mengutamakan kekafiran atas
keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin,
maka mereka itulah orang2 yang zalim” (At Taubah:23) “ Hai orang2 yang
beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali (teman atau
pelindung)” (An Nisaa:144) “ Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2
kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian,
bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun…” (Ali Imran:28) Selain
beriman, seorang pemimpin juga harus adil: Dari Abu Hurairah ra, ia
berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ada
tujuh golongan manusia yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah
pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu
ialah):
- Imam/pemimpin yang adil
- Pemuda yang terus-menerus hidup dalam beribadah kepada Allah
- Seorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid
- Dua orang yang bercinta-cintaan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah
- Seorang pria yang diajak (berbuat serong) oleh seorang wanita kaya dan cantik, lalu ia menjawab “sesungguhnya aku takut kepada Allah”
- Seorang yang bersedekah dengan satu sedekah dengan amat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
- Seorang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullâh) di waktu sendirian, hingga melelehkan air matanya. (HR. Bukhari dan Muslim) “
Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi
karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak
adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s.
Al-Maidah 5: 8) Keadilan yang diserukan al-Qur’an pada dasarnya mencakup
keadilan di bidang ekonomi, sosial, dan terlebih lagi, dalam bidang
hukum. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan
supremasi hukum; memandang dan memperlakukan semua manusia sama di depan
hukum, tanpa pandang bulu. Hal inilah yang telah diperintahkan
al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah ketika bertekad untuk
menegakkan hukum (dalam konteks pencurian), walaupun pelakunya adalah
putri beliau sendiri, Fatimah, misalnya. “Wahai orang-orang yang
beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan,
menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak
ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui
kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135) Dalam sebuah kesempatan,
ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran
mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya
memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah.
Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita
disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu. Dari
Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau
memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang
diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan
berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu
rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka
mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri,
mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i,
Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah) “Sesungguhnya Allah akan
melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak
akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara
I dr Ali ibn Abi Thalib) Pilihlah pemimpin yang jujur: Dari Ma’qil ra.
Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar
dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda:
“seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat
(pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia
tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Bukhari) Pilih pemimpin yang mau
mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme,
manipulasi, dll: “Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia
merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah
dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang
demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim) Pilih pemimpin yang
bisa mempersatukan ummat, bukan yang fanatik terhadap kelompoknya
sendiri: Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan dalam Al
Qur’an : “ … Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian, orang-orang
Muslim, dari dahulu … .” (QS. Al Hajj : 78) Dalam menafsirkan ayat di
atas, Imam Ibnu Katsir menukil satu hadits yang berbunyi : “Barangsiapa
menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah maka sesungguhnya dia menyeru ke
pintu jahanam.” Berkata seseorang : “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa
dan shalat?” “Ya, walaupun dia puasa dan shalat, walaupun dia mengaku
Muslim. Maka menyerulah kalian dengan seruan yang Allah telah memberikan
nama atas kalian, yaitu : Al Muslimin, Al Mukminin, Hamba-Hamba Allah.”
(HR. Ahmad jilid 4/130, 202 dan jilid 5/344). Ada beberapa sifat baik
yang harus dimiliki oleh para Nabi, yaitu:
- Siddiq (benar),
- Amanah (dapat dipercaya),
- tabligh (berkomunikasi baik dengan rakyatnya),
- Fathonah (cerdas/bijaksana).
Sifat di atas juga harus dimiliki oleh pemimpin yang kita pilih. Pilih pemimpin yang amanah, sehingga dia
benar-benar berusaha mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa
menjual aset negara atau kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan
pribadi dan kelompoknya. Pilih pemimpin yang cerdas, sehingga dia tidak
bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan
negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk
memajukan rakyatnya. Terkadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang
korup, sehingga memilih Golput. Sikap golput atau tidak memilih pemimpin
merupakan sikap yang kurang baik. Dalam Islam, kepemimpinan itu
penting, sehingga Nabi pernah berkata, jika kalian bepergian, pilihlah
satu orang jadi pemimpin. Jika hanya berdua, maka salah satunya jadi
pemimpin. Sholat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya
(imam).
Dalam penjelasan di atas, mengapa menurut islam? Tidak lainnya saja? Karena aturan-aturan dalam islam itu menjamin kebenarannya dan membawa manfaat bagi seluruh ummat. Ingat, seluruh ummat. Bukan hanya ummat islam saja dear :) semoga postingan ini bermanfaat yaaa :)
Untuk menghindari sebutan plagiat, saya cantumkan sumbernya http://www.univrab.ac.id/berita-187-bagaimanakah-cara-memilih-pemimpin-menurut-islam.html

0 komentar:
Posting Komentar