*setelah berbulan-bulan tidak mosting, aku kangen yg namanya buat artikel di blog T.T alhamdulillah masih diberi umur untuk berkarya. Mari, semangat memulai karya mulai saat ini!!! AllahuAkbar!!!*
You know? Keinginan awal, saya ingin melanjutkan kuliah di fakultas geografi, jurusan kartografi dan penginderaan jauh. Saya tidak menyangka bahwa ditakdirkan kuliah masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kenapa? Karena mental, sifat, kebijaksanaan, kearifan, kewibawaan apalagi soal kedewasaan dan sebagainya masih jauuuuuh sekali dari karakter seorang "guru". Tapi semua patut disyukuri karena masih banyak yg kurang beruntung dari saya. Allah, Dialah yang telah mengukir takdir saya^^
Kuliah perdana disajikan dengan matkul Pengantar Ilmu Pendidikan. Aura semangat mulai membara, karena sudah tidak berjumpa dengan pelajaran2 yg menurutku membosankan, yaah tak usah disebutkan :p. Mengapa semangat? Karena aku telah menapaki jejak baru, menyongsong masa depan dengan beban akademis yg lebih menantang, dan memikul hal lain yg sekiranya didapat setelah menapaki tahap perguruan tinggi. Mulai dari cara belajar, mencari bahan materi ujian, bagaimana memburu ilmu dengan proses sedemikian rupa, metode belajar yg berbeda, menerima dan menyampaikan ilmu yang dipunya, mencerna apa yang diterangkan oleh dosen, menyesuaikan jadwal yang jlong-jlong dan masih banyak lagi.
Semester 1 hampir berlalu. Aku menuliskan artikel ini saat-saat awal liburan semester. Hal yang paling terngiang-ngiang di benak saya adalah hasil UAS dan portal yang menjadi pijakan hasil studi.
Ceritanya begini:
Saya telah menerima hasil UTS beberapa waktu lalu. Hanya beberapa mata kuliah saja yang dibagikan. Ada penyesalan? Pasti. Nilai UTS yg kurang dan jauh dari jangkauan memuaskan membuatku down dan semakin tidak PD. Rasanya, sudah kurang layak lagi untuk terus berkembang, apalagi di bidang prestasi akademik. Dampak2 buruk yang saya alami ternyata mencetak hal buruk baru. Menjelang UAS, saya masih terngiang-ngiang tentang nilai UTS lalu. Merasa pesimis mendapatkan nilai bagus. Saat itu, seolah-olah saya diracuni oleh setan bagaimana ceteknya mindset saya. Akibatnya semangat saya labil saat awal hingga akhir perjalanan UAS.
Seusai ujian matkul PKn, teman sekelas saya heboh membicarakan nilai. Saya mulai penasaran. Ternyata matkul piiip sudah dinilai dan dibagikan. Bagaimana reaksi saat itu? Saya hanya diam membisu setelah melihat hasil UAS. Saya mencoba tegar dan menenangkan diri, meskipun teman2 saya saling tanya tentang nilai yang mereka peroleh.
Hari penuh kekecawaan itu berlalu. Namun, ternyata masih ada seonggok tamparan yang saya terima lagi untuk ke sekian kalinya. Saat saya hendak membuka facebook, teman saya memberi kabar bahwasannya nilai matkul piip sudah bisa dilihat di portal. Kecewa lagi. Mencoba tenang dan saat itu belum memberanikan diri memberi tahu kepada orangtua. Esoknya, aku beritahu kepada mereka tentang kabar memalukan itu.
Kemudian, beberapa hari setelah melihat portal, saya dan teman mulai membuka diri tentang nilai yang didapatkan antara kami. Saling tanya tentang batasan2 nilai mengikuti ujian ulang bagaimana, antara mengikuti ujian ulang atau mengulang satu semester lagi agar dapat ilmunya dsb. Akhirnya perbincangan kami berujung pada perenungan.
"Buat apa nilai bagus? Toh kita kan calon guru, yang terpenting kita harus bisa mentransfer ilmu kepada siswa kita nanti kan?", nasehat Apid, yang orangnya ke-kakak-kakak-an :3.
Sejak saat inilah mindset saya berkembang dan mulai menerima kebenaran serta hakekat ilmu sebenarnya. Padahal, nilai bukanlah segalanya untuk mencari kesuksesan. Namun, bagaimana proses dan ilmu-ilmu yang didapatkan akan membawa manfaat atau tidak saat terjun di masyarakat. Tidak peduli akan gelar sarjana yang diraih. Masyarakat tidak butuh gelar yang kita raih. Tapi mereka butuh akan ilmu-ilmu yang selama ini kita dapatkan. Saat kita pergi meninggalkan kampung halaman demi menuntut ilmu. Maka, kembalilah ke kampung halaman dengan segudang ilmu yang kita punya. Ilmu adalah oleh-oleh berharga untuk adik, saudara, tetangga, siswa kita nanti. Bagaimana kita telah mengemas ilmu sedemikian rupa hingga pada akhirnya, ilmu seharusnya disampaikan dan diajarkan kepada masyarakat, khususnya pelajar. Dan oleh-oleh itu telah membawa jutaan manfaat dan mengantarkan mereka ke gerbang kesuksesan. Bayangkan jika itu diri kita. Kemudian masyarakat kampungmu selalu pasang senyuman di raut wajah mereka, karena pemberian ilmu kita yang membawa kebahagiaan mereka.
Siapa yang tidak bahagia akan hal ini?

0 komentar:
Posting Komentar