Minggu, 28 Desember 2014

Yang Muda Yang Tak Hura-Hura



                 Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaaatuh~~
       Kembali menemani laptop, kembali mengetik, kembali menebar manfaat meskipun hanya lewat tulisan. Tulisan yang sederhana.
                        Tulisan ini ingin saya tujukan kepada seluruh teman-teman yang mulai sebelumnya atau detik ini hingga seterusnya tetap bersahabat untuk berbuat baik. Aamiin.
        Yang Muda Yang Mendunia. Wusss mendunia. Mengampus aja belum tentu kok mendunia. Wkwkw. Bukan, bukan begitu ya. Muda mendunia bukan berarti jadi anak gaul yang setiap harinya kudu update status, nge-tweet, nge-pm atau ngeksis upload foto di medsos.
                
                Cap Cusss…
                        Ketika kita sedang dihantui oleh iming-iming dunia yang tak kunjung habisnya, sampai ajal menjemput kita. Maka, kita sebenarnya mendapatkan apa sih setelah memasuki fase kehidupan kekal? Sadarlah, bahwa semua iming-iming itu tidak ada apa-apanya bahkan bisa tekor dosa pada masa permanen itu. Ya, akhirat. Sulit memang untuk menghindarkan diri dari hal-hal “menyenangkan” dan istiqomah dalam kebaikan. Apalagi di saat usia kita yang “katanya” cocok buat hore-hore ria, menyisihkan waktu nongkrong sepuasnya, menjajakkan kiriman orang tua dengan memburu kuliner sana-sini atau bahkan agenda rutin malam minggu, adalah berkholwat (berduaan). Astaghfirullah.
                        Padahal Nabi SAW bersabda "Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
1.         Pemimpin yang adil, 
2.         Pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah),
3.         Seseorang yang hatinya bergantung kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya),
4.         Dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5.         Seseorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut kepada Allah",
6.         Seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kanannya, dan
7.         Seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya." (HR Bukhari)

        Wuih tjakep! Teman-teman pasti faham dengan maksud saya. Yaps benar, nomor dua memang greget abisss. “Pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah)”. Golongan ini memang sangat spesial. Di zaman penuh jahiliyah, terdapat pemuda yang spesial, alias limited edition. Spesial akhlaqnya, spesial kecintaannya terhadap Allah, spesial tidak pernah lelah dalam memperjuangkan kebenaran. Di mana sosok pemuda yang dihadapkan dengan dua pilihan, kebathilan atau kebaikan. Maka, dia memilih kebaikan. Pemuda seperti ini PASTI mendapatkan naungan dari Allah.

        Bukankah Allah sudah wanti-wanti terhadap setiap apa akan menimpa hamba-Nya?  Seperti gunung berapi yang tak berhenti memberi “tanda” kepada seluruh penduduk sekitarnya dan mengabarkan bahwa saat itu gunung memiliki berbagai status. Awas, waspada, atau aman? Sebagai penduduk yang “takut” akan “akibat” setelah gunung berstatus awas, selayaknya reaksi penduduk adalah pergi dan mencari tempat ngungsi yang lokasinya jauh dari gunung berapi = jauh dari lahar yang bisa melenyapkan penduduk. Atau justru ada yang tenang-tenang saja kalau gunung itu akan meletus?

        Sama hal nya dengan perumpamaan di atas. Kita sebagai umat islam yang berpedoman dengan Al-Qur’an, tentu pernah mendapatkan ayat-ayat yang isinya pengingat. Atau justru kabar gembira. Kita tinggal pilih. Mau memilih ayat yang berisi janji kabar gembira atau ayat peringatan (siksaan di akhirat kelak).

Buktikan! Bahwa kita adalah pemuda yang enggak mainstream (spesial di mata Allah) ^^








2 komentar:

Unknown mengatakan...

Aku suka tulisanmu mbak kereeen

Unknown mengatakan...

Bagus bagus tulisannya afi~