Assalamualaikum warahmatullahi
wabarokaaatuh~~
Kembali
menemani laptop, kembali mengetik, kembali menebar manfaat meskipun hanya lewat
tulisan. Tulisan yang sederhana.
Tulisan ini ingin saya tujukan
kepada seluruh teman-teman yang mulai sebelumnya atau detik ini hingga
seterusnya tetap bersahabat untuk berbuat baik. Aamiin.
Yang Muda Yang Mendunia. Wusss mendunia.
Mengampus aja belum tentu kok mendunia. Wkwkw. Bukan, bukan begitu ya. Muda
mendunia bukan berarti jadi anak
gaul yang setiap harinya kudu update status, nge-tweet, nge-pm atau ngeksis
upload foto di medsos.
Cap Cusss…
Ketika kita sedang dihantui oleh iming-iming dunia yang tak
kunjung habisnya, sampai ajal menjemput kita. Maka, kita sebenarnya mendapatkan
apa sih setelah memasuki fase kehidupan kekal? Sadarlah, bahwa semua iming-iming
itu tidak ada apa-apanya bahkan bisa tekor dosa pada masa permanen itu. Ya,
akhirat. Sulit memang untuk menghindarkan diri dari hal-hal “menyenangkan” dan
istiqomah dalam kebaikan. Apalagi di saat usia kita yang “katanya” cocok buat hore-hore
ria, menyisihkan waktu nongkrong sepuasnya, menjajakkan kiriman orang tua dengan
memburu kuliner sana-sini atau bahkan agenda rutin malam minggu, adalah
berkholwat (berduaan). Astaghfirullah.
Padahal Nabi SAW bersabda "Ada tujuh golongan yang
bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada
naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
1.
Pemimpin yang adil,
2.
Pemuda
yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah),
3.
Seseorang yang hatinya bergantung
kepada masjid (selalu melakukan shalat berjamaah di dalamnya),
4.
Dua orang yang saling mengasihi di
jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,
5.
Seseorang yang diajak perempuan
berkedudukan dan cantik (untuk bezina), tapi ia mengatakan: "Aku takut
kepada Allah",
6.
Seseorang yang memberikan sedekah
kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang dikeluarkan
tangan kanannya, dan
7.
Seseorang yang berdzikir (mengingat)
Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata dari kedua matanya."
(HR Bukhari)
Wuih
tjakep! Teman-teman pasti faham dengan maksud saya. Yaps benar, nomor dua
memang greget abisss. “Pemuda
yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah)”. Golongan ini memang sangat spesial. Di zaman penuh
jahiliyah, terdapat pemuda yang spesial, alias limited edition. Spesial
akhlaqnya, spesial kecintaannya terhadap Allah, spesial tidak pernah lelah
dalam memperjuangkan kebenaran. Di mana sosok pemuda yang dihadapkan dengan dua
pilihan, kebathilan atau kebaikan. Maka, dia memilih kebaikan. Pemuda seperti
ini PASTI mendapatkan naungan dari Allah.
Bukankah
Allah sudah wanti-wanti terhadap setiap apa akan menimpa hamba-Nya? Seperti gunung berapi yang tak berhenti
memberi “tanda” kepada seluruh penduduk sekitarnya dan mengabarkan bahwa saat
itu gunung memiliki berbagai status. Awas, waspada, atau aman? Sebagai penduduk
yang “takut” akan “akibat” setelah gunung berstatus awas, selayaknya reaksi
penduduk adalah pergi dan mencari tempat ngungsi yang lokasinya jauh dari
gunung berapi = jauh dari lahar yang bisa melenyapkan penduduk. Atau justru ada
yang tenang-tenang saja kalau gunung itu akan meletus?
Sama
hal nya dengan perumpamaan di atas. Kita sebagai umat islam yang berpedoman
dengan Al-Qur’an, tentu pernah mendapatkan ayat-ayat yang isinya pengingat.
Atau justru kabar gembira. Kita tinggal pilih. Mau memilih ayat yang berisi
janji kabar gembira atau ayat peringatan (siksaan di akhirat kelak).
Buktikan!
Bahwa kita adalah pemuda yang enggak
mainstream (spesial di mata Allah) ^^

2 komentar:
Aku suka tulisanmu mbak kereeen
Bagus bagus tulisannya afi~
Posting Komentar