Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarokatuh.........
Benar, usaha sekecil dan sebesar apapun tidak ada yang
sia-sia.
Ini soal niat, bagaimana kita bisa membaca niat orang lain bahwa
si A mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan sesuatu yang baik? Baik
untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar tentunya.
Tapi, sayang sekali. Mustahil kalau di sebuah majelis ditanya satu
persatu apa niat sebenarnya dia bermajelis di majelis AB, kemudian ditanyakan
dari hati ke hati. Dapat dipastikan ini hal yang lebih mustahil lagi. Lebih
baik yang dari hati ke hati ini bisa dicoba, agar lebih terdeteksi sesungguhnya
manusia mana sajakah yang niatnya benar2 baik, benar2 tulus, bahkan
mengorbankan dirinya demi seonggok kemuliaan itu. Dan semua yang diharapkan di
balik kemuliaan2 itu satu persatu akan terwujud. Tetapi baiknya dilakukan
secara bersama-sama, bukan yang kelihatan saja.
Yah, meski pada akhirnya mengecewakan bagi orang yang semacam ini.
Sedikit cerita, bahwa tidak selalu juga yang dikejar2 oleh
kebaikan, Ia tak selalu menyadari akan kebaikan itu. Namun banyak juga yang
mengalami sebaliknya. Ketika seseorang telah mengejar impian dan kebaikan2 itu,
bisa jadi Ia luntur di balik kebaikan itu. Hanya karena perlakuan sekeliling
yang tidak berkenan, kesalahan pribadi, dsb.
Bicara soal hati lagi. Lebih sakit hati lagi jika orang itu
berniat baik. Perlu diingat juga, bahwa sebaik-baik niat juga tidak selalu
berujung pada kebaikan dari mana asal niat mulia itu sendiri. Bahkan yang sudah
sangat kita harapkan dan kita sadari (maaf) bahwa entah secara sengaja atau
tidak sengaja kita dibuat punah oleh oknum selain kita. Sehingga kita merasa
gatot (gagal total) dalam niat baik itu.
Atau ini memang sebuah klimaks dari Allah bagaimana menguji
kesabaran pada kita. Apakah uji kesabaran ini akan berujung baik atau buruk?
Itu bergantung pada kita masing-masing seberapa jauh kita menguasai diri.
Coba hati siapa yang siap menghadapi semacam ini?
Niat bulat, tekad kuat, tujuan mulia. Namun hanya berujung
zonk.
Kembali pada kata-kata dari seorang penulis masyhur:
Kita tidak akan pernah kecewa jika kita selalu mengendalikan
harapan -Tere Liye-
Dan, aku lebih menyukai karya beliau yang lebih mengena pada hati.
Jika kita selama ini merasa selalu memperoleh hal2 kecil, barang
bekas, sisa orang lain, pilihan kedua, dan seterusnya, bagian tidak penting,
bahkan mungkin merasa tidak pernah mendapatkan hal2 terbaik dalam hidup, maka
bukankah itu keren sekali?
Hanya orang2 hebatlah yang bisa hidup bahagia dengan hal2 kecil di
sekitarnya. Tinggal dilengkapi dengan rasa syukur. Kita semua sebenarnya
memiliki hal terbaik yang diberikan Tuhan, yaitu: kehidupan itu sendiri. Itulah
hal paling menakjubkan milik manusia. Coba kalau kita dijadikan batu atau pot
kembang, akan berbeda sekali penjelasannya.
Dan sudah seharusnya kita menanyakan pada diri sendiri. Kita
pikirkan baik-baik keinginan mulia kita. Tapi kita juga harus membuntuti bahwa
resiko juga tetap dekat pada niat baik itu. Ya, meskipun baik. Jika berujung
pada kekecewaan, lantas planing selanjutnya kita harus gimana? Tentu hanya
prang2 terpilihlah yang akan berujung baik. Maka, istighfarlah dalam setiap
kekecewaan.
Semoga kalian yang sedang merasakan semacam *kagol* seperti ini,
dapat segera diredam dengan cara yang baik.
Lanjutkan jihad kalian, jangan sekali-kali memenangkan dampak
buruk akibat ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri.
Kalian tetap mulia di hadapan-Nya, jika kalian setia bersabar dan ikhlas
menerima segalanya yang menimpa kalian. Sekali lagi, lanjutkan jihadmu!!!
Jangan berhenti!!! Dan, pastikan bahwa ada Allah dibalik layar. Dibalik
perjuangan muliamu yang tak seorangpun mengetahui yang kamu lakukan.
Berharaplah pada-Nya! Karena jika kita berharap pada sesama, perasaan semacam
*kagol* ini tidak akan menyerah menghampirimu. Terutama setan yang sedang
menggebu-gebu menggoda nafsu marahmu. semangkA!!! (Semangat karena Allah) :')

0 komentar:
Posting Komentar